Terinspirasi dari sebuah novel yang sedang ku baca “Dear Papa”, tiba-tiba hati ku tergerak untuk menulis sesuatu tentangnya.
Papa,
Seorang ayah, pemimpin rumah tangga, tulang punggung keluarga, imam, dan pusat kebanggaan di keluargaku. Pria separuh baya yang sudah mengarungi perjalanan hidup selama 51 tahun itu berdiri tegap di bayang kepala ku saat ini. Sambil tersenyum manis adek ingin mempersembahkan tulisan ini untukmu.
Papa ku anak ke 6 dari 9 bersaudara. Papaku tumbuh besar tanpa didampingi seorang ibu, karena mamanya (opung boru ku) meninggal di usia nya yang cukup belia. Besar dengan kasih sayang seorang ayah yang berjuang hidup menyekolahkan dan membiayai hidup 9 anaknya, memaksa papa ku untuk bisa hidup mandiri sedini mungkin. Setamat dari SMA papa memutuskan untuk segera bekerja tanpa memikirkan harus kuliah dan lain-lainnya. Dan Tuhan membukakan jalan, papa ku keterima menjadi seorang pegawai.
Keadaan seperti ini menyadarkan papa ku kalau seorang anak benar-benar membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua, maka sampai sekarang ini dia tak pernah sedetikpun menyia-nyiakan kami (ketiga anaknya). Bahkan terkadang kasih sayang yang diberikan papa kepada kami terkesan over protective (dan kini aku menyadari bahwa dia tidak bermaksud lain, semata hanya ingin melindungi dan menyanyangi kami saja). Dari kami sekolah di Taman Kanak-Kanak (aku dan kakak) sampai ke bangku SMA, papa selalu setia mengantar jemput kami ke sekolah. Aku sama sekali tak pernah malu jika teman-temanku yang lain selalu mengatakan aku anak “papi”, aku sama sekali tak terusik dengan pernyataan itu malah yang ada aku BANGGA karena aku punya papa yang masih bisa dan mau mengantar jemput kemana pun anak-anaknya pergi. Pria hebat yang cukup protective ini sempat meresahkan pikiranku, abang, kakak dan mama, dengan sifat papa yang seperti ini memungkinkankah dia memberi kami ijin untuk merantau ke pulau Jawa. Ketakutan kami terjawab pada saat dia melepaskan abang untuk kuliah di Jogja. Satu minggu sebelum keberangkatan abang (karena ini untuk kali pertamanya harus berpisah dengan salah satu anaknya) dia meluangkan banyak waktu dan uang untuk memanjakan abang sebelum dia merantau di kota orang. Di pelabuhan kapal, saat abang sudah berada di dalam kapal menuju Jakarta papa masih sempat menelfon abang dan dalam tangisnya dia berkata : “Selamat Jalan Mang, doa papa bersamamu di perantauan”. Saat itu aku yang berusia 11 tahun melihat pria tegar di hidupku ini menitikkan air mata melepas salah satu bagian dalam hidupnya. Perlahan, kakak pun pergi meninggalkan rumah demi menuntut ilmu di kota orang. Kemudian rasa takut mulai menyelimutiku saat aku sadar bahwa aku anak paling kecil di keluargaku, dan hampir kebanyakan dari keluarga besar ku anak paling kecilnya memilih atau dipilih untuk tinggal tetap di rumah untuk menemani kedua orang tuanya yang sudah mulai tua. Saat itu tak terucap langsung dari bibir papa, dia hanya menyiratkan sebuah permintaan besar dan papa ingin aku menjadi seorang dokter. Berapapun dia bersedia menyiapkan dana asal aku bisa sekolah kedokteran bahkan di perguruan tinggi swasta Medan sekalipun. Aku ingin mengabulkan permintaannya itu tapi hatiku berkata lain, bukan passionku di kedokteran dan aku memilih jalanku untuk berkuliah di Teknik Telekomunikasi IT Telkom. Dan saat keberangkatanku dengan tegar (entah karena ini sudah ketiga kalinya harus melepaskan bagian ketiga dari hidupnya) papa mengantarku ke bandara. Sebelum aku memasuki ruang tunggu, aku berpamitan, mencium tangannya dan papa memelukku dan mencium kedua pipiku, saat itu aku merasakan pelukan hangat yang tak ingin ku lepas, dan dia berkata : “Berjuang pudan, gapai mimpimu dan jadi kebanggaanku”. Dan ini sudah tahun ke4 selesai peristiwa mengharukan itu dan adek masih terus berjuang menorehkan senyum kebanggaan di wajah papa.
Ada beberapa hal yang harus aku dan kedua saudara ku tutupi dari papa (karena sifat khawatir papa yang terlalu berlebihan kepada kami). Salah satu contohnya : pada saat aku dan kakak hendak liburan ke bekasi untuk pertama kalinya ke rumah bou (adik papa) kami nyasar ke Jakarta, saat itu kami memilih diam dan berusaha sendiri untuk bisa kembali ke bekasi dengan selamat; pada saat aku menjalani Geladi di Bali aku tak memberi tahunya situasi keberangkatan kalau rombongan kami belum mendapat kos-kosan disana dan kami pergi ke kota orang tanpa tujuan yang jelas; aku berlibur ke Jakarta Utara (Waterboom PIK), Kawah Putih, menginap beberapa hari di Bogor dan itupun tanpa memberi tahunya. Karena alasan rasa khawatirnya yang berlebihan dan aku pun tak ingin diusik dengan telfon dari rumah setiap setengah jam sekali hanya untuk memastikan keberadaanku aku memutuskan untuk diam tanpa memberitahunya.
Tak jarang aku yang terlahir sebagai anak bungsu merengek manja minta ini minta itu. Dan ini baru terjadi sebulan yang lalu, saat dengan bangga aku mempersembahkan nilai semesterku ke papa dengan iming-iming dia akan menyetujui proposalku untuk berlibur beberapa minggu di kota kelahiranku. Saat itu sore menjelang malam, dia yang sedang memanjakan tubuhnya yang lelah habis bekerja seharian di lapangan, tidur sambil menonton TV dan saat itu pulak aku mengajukan proposal itu. Diam, dan tak bereaksi sama sekali untuk beberapa saat sampai akhirnya dia mengangkat suara dan dia tak memberiku ijin. Sedih, dan saat itu aku hanya diam dan mengomel di dalam hati. Aku merasa alasan papa tidak masuk akal, untuk 2 hari ke depan aku meluncurkan aksi mogok bicara. Aku asik dengan dunia ku, laptop, internet dan beberapa buku baru tanpa mempedulikan papa. Lalu aku mengadu kepada mama, dan aku berkata papa selalu mengabulkan permintaan kakak, dia minta ini dibeliin, dia minta itu dibeliin kenapa pada saat aku yang meminta papa menolaknya, malah yang anehnya aku hanya minta ijin untuk berlibur ke Medan tanpa meminta uang sedikitpun dari papa karena aku pun sudah memiliki anggaran dari tabungan ku untuk berlibur. Akhirnya karena satu alasan yang sudah melewati “proses” yang sangat menakutkan dia memberi ku ijin. Sampai dengan keberangkatan aku dan mama ke Medan aku sama sekali tidak berani menatap dan berbicara dengan papa, sampai akhirnya dia memelukku dan dia menangis berkata : “aku tak pernah membeda-bedakan kalian, kalian sama di hadapanku dan kasih sayangku terbagi sama rata untuk semuanya”. Aku hanya bisa menangis dan aku kembali memeluknya dan meminta maaf karena sudah berprasangka buruk terhadapnya.
Priaku ini sungguh luar biasa, pria yang ga banyak bicara dan terkesan dingin kepada semua orang dan semua hal begitu memegang teguh prinsipnya. Dia berkata TIDAK untuk sesuatu yang dianggapnya tidak benar, dan berkata IYA untuk sesuatu yang sejalan dengan rasionya. Hal ini yang membuat dia cukup bertentangan dengan beberapa orang, bahkan dengan saudara-saudaranya. Papa yang sudah bisa hidup mandiri sejak usianya yang belia menjadikannya tulang punggung untuk keluarganya, cukup mapan untuk bisa membantu beberapa orang adik dan abangnya. Tapi, beginilah hidup terkadang di atas dan terkadang di bawah. Sampai usiaku sekitar 8 tahunan aku masih merasakan masa kejayaan ekonomi keluarga kami dan aku sama sekali tak merasakan ada kesombongan di dirinya bahkan dia dengan ringan tangan dalam hal memberi materi kepada yang lain. Sampai akhirnya roda itu berputar, papa dipindah tugaskan ke daerah, Tarutung, dan saat itu keadaan ekonomi keluarga ku berputar 180 derajat. Papa depresi, beberapa bulan dia berjuang melawan kedepresiannya itu sampai akhirnya dia berhasil menemukan kembali semangatnya tapi itu tidak merubah kondisi ekonomi keluargaku. Terseok-seok kami melangkah, keadaan ini juga memaksa mama untuk ikut membanting tulang demi menyekolahkan kami. Perlahanpun sanjungan yang dulu diterima papa pada saat kejayaannya mulai meredup, tak sedikit orang mulai memandangnya sebelah mata tapi papaku tak begitu memusingkan itu dia berjuang hanya untuk 4 alasan : mama, abang, kakak dan adek. Dia tak berjuang seorang diri, dia berjalan dengan sosok penuntun jalan di hidupnya “YESUS”, perlahan tapi pasti Tuhan membuka jalan untuk papa bisa kembali ke masa jaya nya itu. Dipindah tugaskan ke Bandung lalu menetap di Bekasi, Tuhan kembali membuka lumbung emas yang sudah tertutup hampir 12 tahun lamanya.
Dia, ayah yang berjuang penuh semangat, kini sudah memasuki usia senja. Tapi masih terlihat sangat ganteng dengan costum kesayangannya, celana jeans, kaos oblong dan sepatu kulit yang maco terlihat seperti pria dewasa yang tampan. Sudah saatnya adek, abang, dan kakak membalas setiap peluh yang papa keluarkan, menggantikan letih yang selama ini menjadi sebuah senyum kebanggaan. Aku ingat dengan jelas papa berkata : “Kami ini bukan orang kaya, kami tak punya tanah untuk kami wariskan kepada kalian nantinya, kami tak punya banyak rumah yang bisa kami beri satu-satu ke kalian, kami miskin materi. Hanya kalian bertiga harta terbesar yang papa mama miliki saat ini”.
Adek sangat bersyukur memiliki mu, pria terganteng di dalam hidupku. Menyenangkan mu menjadi alasan kenapa adek berjuang saat ini. Adek berharap kau bisa menghantarkan ku ke pelaminan, aku mengenakan gaun putih ku berjalan menuju pelataran suci sambil merangkul mu yang berbalutkan jas hitam. Adek ingin melihat mu menggendong cucu mu.
Terima kasih untuk lelaki terbaik di hidupku,
Aku yang akan selalu menyanyangimu
Boru pudan mu yang nakal
-Lisa Anastasia Simangunsong-
" unbelievable moment "
Malam itu, entah kenapa aku ingin merempong dengan seseorang tapi ga tau dengan siapa. Aku membuka contact whatsapp ku berniat untuk merempong dengan salah satu dari mereka yang terdaftar di contact whatsapp itu. Dan akhirnya aku menemukan satu nama, salah seorang temanku merempong, beradu mulut, saling menghina satu sama lain tapi tak jarang juga hanya hal-hal negatif yang kami lakukan. Banyak ide-ide brilian yang keluar pada saat 2 otak rempong itu bersatu, saling memberi semangat di kala salah satu dari kami sedang mengalami masalah. Sejujurnya kami tak cukup dekat untuk bisa saling terbuka akan “something” dan kami jarang meluncurkan curhat colongan satu sama lain. Tapi tidak untuk malam itu... semuanya terkuak tanpa dikontrol.
Berawal dari keisengan ku yang ingin menggodanya akan satu hal sampai berakhir dengan sesuatu yang aku sebut dengan “unbelievable moment” . Dia bercerita tentang “something” yang terjadi padanya dan saat itu aku tertawa terbaha-bahak, aku sama sekali tak menyangka hal seperti itu pun mampu melanda teman ku yang satu ini :P . Seolah tak rela memberi informasi itu secara cuma-cuma, dia berusaha sekuat tenaga meminta imbalan pada ku berupa cerita yang sama yang terjadi padaku. 10 menit negoisasi panjang, akhirnya aku luluh di tangannya. Jujur , uda dari beberapa bulan yang lau aku ingin bercerita masalah ini padanya, tapi setelah menimbang secara seksama; orang dengan tipe seperti dia itu bukan pilihan yg baik menjadikannya tempat curhat.
Dan di luar kontrol ku, aku menceritakan “something” itu kepadanya. Setelah beberapa saat aku baru menyadari aku baru saja menceritakan semuanya secara detail. Ku buka kembali chat room kami, membaca nya lagi dari atas ke bawah, dan damn apa yang baru saja aku lakukan; aku telah menguak rahasia ku. Dan diluar perkiraan, orang yang ku anggap manusia paling rempong di dunia dan paling tak tersentuh akan hal-hal seperti itu baru saja menjadi tempat ‘sampah’ku dan dia bukan sekedar menjadi tempat ‘sampah’ tapi juga menjadi mesin pengelola yang baik.
Setelah selesai mengorek ku sampai kedalaman yang dia inginkan, akhirnya dia menganalisis kasus ku. Yup, dengan batasan masalah yang sudah ada akhirnya dia membuat kesimpulan dan saran bagiku. Seketika aku terkagum memandang chat room kami sambil membayangkan wajahnya yang rempong (sama sekali di luar jangkauan ku mahluk seperti dia bisa melakoni peran itu dengan apiknya) dia memberi ku nasihat, dia menegurku dan dia memberiku saran-saran praktis untuk masalah ku itu, yah tentu dengan segudang analogi (untung setelah setahun berinteraksi dengannya aku sudah terbiasa dengan semua analoginya) . Dan akhirnya aku mengakui dia cukup pakar dalam masalah cinta.
Dan ada hal lain yang baru aku sadari, aku baru saja menceritakan sesuatu yang cukup pribadi kepada orang lain dan mahluk itu adalah pria. Hahaha, malu sih tapi.... bukan curhat colongan loh, tapi emang dasar dianya yang mau mengorek-ngorek masalah pribadi, yasudah jangan salahkan aku kalau dia akhirnya jadi tempat ‘sampah’ ku.
Dan ini untuk kali pertamanya aku bercerita masalah pribadiku ke salah seorang teman pria, dan ternyata It isn’t so bad. Aku mendapat pencerahan dari sudut pandang seorang pria masalah itu, dan ternyata berbagi pundak untuk menangani satu masalah itu jauh lebih baik daripada ditanggung sendiri (bukan bermaksud untuk merepotkan) tapi kenyataannya berbagi itu indah apalagi bisa berbagi hidup sama orang lain tidak dalam keadaan senang-senangnya saja tapi juga di saat sedih.
Special thanks to you, seorang teman yang sudah membuka pikiran dan memberi pandangan baru untukku. Let’s do to open 2 doors now, and you will make the key for me to open that doors.
Berawal dari keisengan ku yang ingin menggodanya akan satu hal sampai berakhir dengan sesuatu yang aku sebut dengan “unbelievable moment” . Dia bercerita tentang “something” yang terjadi padanya dan saat itu aku tertawa terbaha-bahak, aku sama sekali tak menyangka hal seperti itu pun mampu melanda teman ku yang satu ini :P . Seolah tak rela memberi informasi itu secara cuma-cuma, dia berusaha sekuat tenaga meminta imbalan pada ku berupa cerita yang sama yang terjadi padaku. 10 menit negoisasi panjang, akhirnya aku luluh di tangannya. Jujur , uda dari beberapa bulan yang lau aku ingin bercerita masalah ini padanya, tapi setelah menimbang secara seksama; orang dengan tipe seperti dia itu bukan pilihan yg baik menjadikannya tempat curhat.
Dan di luar kontrol ku, aku menceritakan “something” itu kepadanya. Setelah beberapa saat aku baru menyadari aku baru saja menceritakan semuanya secara detail. Ku buka kembali chat room kami, membaca nya lagi dari atas ke bawah, dan damn apa yang baru saja aku lakukan; aku telah menguak rahasia ku. Dan diluar perkiraan, orang yang ku anggap manusia paling rempong di dunia dan paling tak tersentuh akan hal-hal seperti itu baru saja menjadi tempat ‘sampah’ku dan dia bukan sekedar menjadi tempat ‘sampah’ tapi juga menjadi mesin pengelola yang baik.
Setelah selesai mengorek ku sampai kedalaman yang dia inginkan, akhirnya dia menganalisis kasus ku. Yup, dengan batasan masalah yang sudah ada akhirnya dia membuat kesimpulan dan saran bagiku. Seketika aku terkagum memandang chat room kami sambil membayangkan wajahnya yang rempong (sama sekali di luar jangkauan ku mahluk seperti dia bisa melakoni peran itu dengan apiknya) dia memberi ku nasihat, dia menegurku dan dia memberiku saran-saran praktis untuk masalah ku itu, yah tentu dengan segudang analogi (untung setelah setahun berinteraksi dengannya aku sudah terbiasa dengan semua analoginya) . Dan akhirnya aku mengakui dia cukup pakar dalam masalah cinta.
Dan ada hal lain yang baru aku sadari, aku baru saja menceritakan sesuatu yang cukup pribadi kepada orang lain dan mahluk itu adalah pria. Hahaha, malu sih tapi.... bukan curhat colongan loh, tapi emang dasar dianya yang mau mengorek-ngorek masalah pribadi, yasudah jangan salahkan aku kalau dia akhirnya jadi tempat ‘sampah’ ku.
Dan ini untuk kali pertamanya aku bercerita masalah pribadiku ke salah seorang teman pria, dan ternyata It isn’t so bad. Aku mendapat pencerahan dari sudut pandang seorang pria masalah itu, dan ternyata berbagi pundak untuk menangani satu masalah itu jauh lebih baik daripada ditanggung sendiri (bukan bermaksud untuk merepotkan) tapi kenyataannya berbagi itu indah apalagi bisa berbagi hidup sama orang lain tidak dalam keadaan senang-senangnya saja tapi juga di saat sedih.
Special thanks to you, seorang teman yang sudah membuka pikiran dan memberi pandangan baru untukku. Let’s do to open 2 doors now, and you will make the key for me to open that doors.
Love is a Blessing
[ Eri Silvanus ]
Love is the strongest power
Love makes the world go around
Love makes the flowers bloom
Love makes you and me
Love – you can never take it
Love – you can only give it
Love – you can never buy it
Love – you can only receive it
Love – you can’t buy with money
Love – you can’t buy with your looks
And sometimes you have to realize
Love – you can’t buy with your kind heart
Love is a blessing
Love is an unpredictable thing
So when you have it
Just remember that love is a gift
From the Lord
Love is the strongest power
Love makes the world go around
Love makes the flowers bloom
Love makes you and me
Love – you can never take it
Love – you can only give it
Love – you can never buy it
Love – you can only receive it
Love – you can’t buy with money
Love – you can’t buy with your looks
And sometimes you have to realize
Love – you can’t buy with your kind heart
Love is a blessing
Love is an unpredictable thing
So when you have it
Just remember that love is a gift
From the Lord
P.A.R.I.S
Paris, France
Entah sejak kapan satu kota ini seakan memiliki magnet yang begitu besar bagiku, menarik sebagian jiwa ku untuk segera mengunjunginya. Kota dengan menara terbesar di dunia itu dijadikan sebagai salah satu keajaiban dunia “Menara Eiffel” dan menjadi kota teromantis yang ada di dalam benakku sejak kecil. Aku mencari tahu beberapa informasi mengenai kota itu, mulai dari sejarah Menara Eiffel, bangunan-bangunan bersejarah lainnya, kota-kota terkenal di negara Prancis, tim sepak bola nasional negara tersebut (Zinedine Zidane) sampai beberapa bea siswa yang mungkin bisa menghantarkan ku menuju kota impian ku itu. Saat ini PARIS menjadi salah satu mimpi ku, aku ingin sekali menginjakkan kaki ku, menikmati setiap sudut kota romantis itu dengan orang-orang yang ku sayang. Aku berencana (nantinya) ingin berbulan madu di kota impian ku itu.
Paris, tunggu kedatanganku. Suatu saat nanti, PASTI, aku akan ada berada di tempat itu.
ini gambar yang diambil oleh seorang teman baru (ku kenal di kamp yang aku ikuti beberapa bulan yang lalu) yang Agustus 2011 baru saja berkunjung ke Prancis, dan aku sempat bercerita kepadanya mengenai impian dan kecintaan ku akan Paris.
Nova Silalahi : bukuwu sayaaang Lisa Anastasia Simangunsong, ini aku tag in menara impian kamu yaaa, hehee :p
REUNIAN KECIL
Hari ini, 24 Januari 2012, 2 tahun sudah aku tidak bertemu dengan teman-teman SMA ku. Kangen? Pasti! Akhirnya setelah 3hari menginjakkan kaki di kota kelahiran ku ini, aku punya kesempatan untuk bertemu mereka. Malam sebelumnya kami sudah dengan rapi menyusun rencana pertemuan itu, SUN Plaza menjadi pilihan untuk bertemu.
Dari jam7 pagi aku sudah bergegas menyelesaikan segala tanggung jawab ku di rumah, dan aku mulai bersiap-siap diri dari jam10. Di benakku sudah terlintas gambar ke4 cewek-cewek yang akan ku temui nanti. Aku menaiki angkot untuk bisa tiba di tempat yang telah kami sepakati, di sepanjang jalan aku melempar pandangan ke sekitarku. Aku mengamati setiap halnya, mulai dari bangunan lama yang masih sama seperti 2 tahun lalu ketika aku kembali ke Medan sampai dengan gedung-gedung baru yang mulai memadati kota kecil ku ini. Aku sungguh menyukai setiap sudut kota kelahiran dan kota tempat aku dibesarkan ini.
Akhirnya angkot yang ku tumpangi pun tiba di sebuah mall yang cukup familiar bagiku, karena dulu letak SMA ku yang berada di belakang mall ini menjadikan tempat ini menjadi pelabuhan terakhir anak-anak sekolahan ku. Aku mengelilingi mall itu seorang diri karena ke4 perempuan itu masih belum tiba. 10 menit dengan kesendirian ku di mall yang sebesar itu akhirnya salah satu dari mereka tiba. Aku dan Evi bertemu di Gramedia. Tidak ada perubahan yang cukup significan dari teman ku yang satu ini, awalnya dia ingin bermain petak umpet dengan ku tapi percuma, aku hafal dengan baik jidat nongol yang selalu ku pandangi beberapa tahun silam pada saat kami di bangku sekolahan. Sambil menunggu yang lain, aku menemaninya mencari makan. Tak berapa lama 2 mahluk yang cukup familiar ini pun muncul dan kami hanya tinggal menunggu 1 orang lagi. Aku, Evi, Yova dan Via menghabiskan waktu sambil menunggu Bernike di KFC; tempat ini basecamp kami di mall ini karena semasa kami bersekolah tempat ini lah yang menjadi tempat favorit kami ketika kami berkunjung ke mall ini dan waktu kunjungan kami biasanya berkisar di pkl 15.00 – 17.00 karena itu lah waktunya untuk paket hemat (paket miskin anak sekolahan).
Nostalgia, selalu ada cerita dulu yang sudah menjadi kenangan kami mencuak kembali ke daratan obrolan saat itu. “Kapan tamat?” , dan pertanyaan yang sudah tak asing lagi di telinga mahasiswa tingkat akhir seperti kami ini pun terucap. Agak bergeser sedikit dari masalah kuliah, pertanyaan ini juga cukup beken : “Siapa abang kita itu sekarang?”, yap untuk pertanyaan yang satu ini seuntai senyuman cukup menjawab sepertinya. Belum sempat membuka aib di masa lalu lebih dalam, jam sudah menunjukkan pkl14.50 dan kami harus meninggalkan KFC dan menuju ke 21. Tiket Paranormal Activity 3 sudah ada di tangan, sebelum pintu teater dibuka kami menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto bersama.
Aksi nakal pun berlangsung dengan sendirinya, posisi duduk kami sangat memungkinkan untuk saling bergurau nakal. Aku, Yova, Evi, Via, dan Ike ; ini merupakan formasi yang cukup berbahaya karena aku dipersatukan dengan teman gilaku yang satu ini : Yova. Sebelum film horor dimulai, kami sudah menebarkan aura horor di sekitar kami dengan tawa mak lampir andalan Yova dan ketawa gila ku. Hahaha, dasar duet maut. Setelah ketegangan selama beberapa jam dengan ending yang tidak memuaskan, akhirnya kami keluar dari bioskop dan mengambil tempat sejenak di foodcourt untuk kembali mengobrol. Kembali satu per satu aib di masa lalu kembali diangkat lagi ke permukaan, mulai dari kisah fenomenal percintaan Yova dengan salah satu kakak kelas kami sampai dengan adu pendapat mengenai beberapa doktrin. Yah, ini lah mahasiswa; kaum intelek dan kami membuka lebar kesempatan untuk beradu argument.
Kenapa kalau sedang ada di tengah-tengah orang yang kita sayang waktu terasa sangat cepat berlalu? Aku melirik ke jam tangan ku yang sudah menunjukkan pkl18.30 dan kami harus segera mengakhiri pertemuan singkat ini. Sebelum berpisah kami menyempatkan diri untuk mampir ke Gramedia karena aku ingin membeli sebuah buku yang dari tadi siang cukup menarik perhatian ku. Chicken Soup for the Soul : “True Love”
Dan setelah itu kami berpisah dan aku menumpang motor Evi sampai daerah di dekat rumah ku. Singkat memang perjumpaan kami itu tapi cukup bermakna bagiku karena aku bisa melepas rindu ku dengan beberapa teman lama ku. Kami masih kekurangan Katrina, Novieta dan Rina, aku berharap masih punya kesempatan bertemu mereka semua sebelum liburan ku di Medan berakhir.
Dari jam7 pagi aku sudah bergegas menyelesaikan segala tanggung jawab ku di rumah, dan aku mulai bersiap-siap diri dari jam10. Di benakku sudah terlintas gambar ke4 cewek-cewek yang akan ku temui nanti. Aku menaiki angkot untuk bisa tiba di tempat yang telah kami sepakati, di sepanjang jalan aku melempar pandangan ke sekitarku. Aku mengamati setiap halnya, mulai dari bangunan lama yang masih sama seperti 2 tahun lalu ketika aku kembali ke Medan sampai dengan gedung-gedung baru yang mulai memadati kota kecil ku ini. Aku sungguh menyukai setiap sudut kota kelahiran dan kota tempat aku dibesarkan ini.
Akhirnya angkot yang ku tumpangi pun tiba di sebuah mall yang cukup familiar bagiku, karena dulu letak SMA ku yang berada di belakang mall ini menjadikan tempat ini menjadi pelabuhan terakhir anak-anak sekolahan ku. Aku mengelilingi mall itu seorang diri karena ke4 perempuan itu masih belum tiba. 10 menit dengan kesendirian ku di mall yang sebesar itu akhirnya salah satu dari mereka tiba. Aku dan Evi bertemu di Gramedia. Tidak ada perubahan yang cukup significan dari teman ku yang satu ini, awalnya dia ingin bermain petak umpet dengan ku tapi percuma, aku hafal dengan baik jidat nongol yang selalu ku pandangi beberapa tahun silam pada saat kami di bangku sekolahan. Sambil menunggu yang lain, aku menemaninya mencari makan. Tak berapa lama 2 mahluk yang cukup familiar ini pun muncul dan kami hanya tinggal menunggu 1 orang lagi. Aku, Evi, Yova dan Via menghabiskan waktu sambil menunggu Bernike di KFC; tempat ini basecamp kami di mall ini karena semasa kami bersekolah tempat ini lah yang menjadi tempat favorit kami ketika kami berkunjung ke mall ini dan waktu kunjungan kami biasanya berkisar di pkl 15.00 – 17.00 karena itu lah waktunya untuk paket hemat (paket miskin anak sekolahan).
Nostalgia, selalu ada cerita dulu yang sudah menjadi kenangan kami mencuak kembali ke daratan obrolan saat itu. “Kapan tamat?” , dan pertanyaan yang sudah tak asing lagi di telinga mahasiswa tingkat akhir seperti kami ini pun terucap. Agak bergeser sedikit dari masalah kuliah, pertanyaan ini juga cukup beken : “Siapa abang kita itu sekarang?”, yap untuk pertanyaan yang satu ini seuntai senyuman cukup menjawab sepertinya. Belum sempat membuka aib di masa lalu lebih dalam, jam sudah menunjukkan pkl14.50 dan kami harus meninggalkan KFC dan menuju ke 21. Tiket Paranormal Activity 3 sudah ada di tangan, sebelum pintu teater dibuka kami menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto bersama.
Aksi nakal pun berlangsung dengan sendirinya, posisi duduk kami sangat memungkinkan untuk saling bergurau nakal. Aku, Yova, Evi, Via, dan Ike ; ini merupakan formasi yang cukup berbahaya karena aku dipersatukan dengan teman gilaku yang satu ini : Yova. Sebelum film horor dimulai, kami sudah menebarkan aura horor di sekitar kami dengan tawa mak lampir andalan Yova dan ketawa gila ku. Hahaha, dasar duet maut. Setelah ketegangan selama beberapa jam dengan ending yang tidak memuaskan, akhirnya kami keluar dari bioskop dan mengambil tempat sejenak di foodcourt untuk kembali mengobrol. Kembali satu per satu aib di masa lalu kembali diangkat lagi ke permukaan, mulai dari kisah fenomenal percintaan Yova dengan salah satu kakak kelas kami sampai dengan adu pendapat mengenai beberapa doktrin. Yah, ini lah mahasiswa; kaum intelek dan kami membuka lebar kesempatan untuk beradu argument.
Kenapa kalau sedang ada di tengah-tengah orang yang kita sayang waktu terasa sangat cepat berlalu? Aku melirik ke jam tangan ku yang sudah menunjukkan pkl18.30 dan kami harus segera mengakhiri pertemuan singkat ini. Sebelum berpisah kami menyempatkan diri untuk mampir ke Gramedia karena aku ingin membeli sebuah buku yang dari tadi siang cukup menarik perhatian ku. Chicken Soup for the Soul : “True Love”
Dan setelah itu kami berpisah dan aku menumpang motor Evi sampai daerah di dekat rumah ku. Singkat memang perjumpaan kami itu tapi cukup bermakna bagiku karena aku bisa melepas rindu ku dengan beberapa teman lama ku. Kami masih kekurangan Katrina, Novieta dan Rina, aku berharap masih punya kesempatan bertemu mereka semua sebelum liburan ku di Medan berakhir.
" With YOU, I can do all things "
Yeah, Semester 7 pun diselesaikan dengan baik. Cuma bisa bilang : “With YOU, I can do all things”.
Semester 7, semester yang dihiasi dengan mata kuliah ajaib : Rekayasa Radio, Sistem Komunikasi Seluler, Pengolahan Sinyal Multimedia, Kapita Selekta, Kewarganegaraan, Proposal & Seminar, Manajamen Sumber Daya Manusia. Aku mengakui bahwa mata kuliah semester ini jauh lebih “manusiawi” dibanding dengan mata kuliah di 3 semester yang lalu. Tapi aku merasa tekanan yang ada di semester ini malah jauh lebih berat, dengan keadaan dosen yang jarang masuk kelas, tuntutan tugas yang tiba-tiba mencuak secara dasyat (Jurusan TT tak pernah direcoki dengan yang namanya TuBes), Tugas Akhir yang selalu menghantui mahasiswa tingkat akhir, dan kejenuhan yang berakhir dengan melarikan diri kemana pun untuk bisa menghilangkan penat ini.
Itu semua menjadi alasan kenapa aku takut melewati semester 7 ini, dan seperti ada semacam “kutukan” dimana di setiap semester ganjil IP ku turun secara drastis. Aku ingin sekali mematahkan “kutukan semester ganjil” itu untuk kali ini, tapi seolah semuanya tak mendukung begitu juga dengan diriku. Malas, galau, suka menunda-nunda, hobinya jalan dan main-main; ini adalah musuh ku. Aku benar-benar belajar hanya 2 kali dalam semester ini, menjelang UTS dan UAS.
Semester berat, tapi aku tak mengijinkan diri ku berjalan seorang diri, aku mengajak seorang SAHABAT menemaniku melewati semester ini. Saat mendapatkan hasil, sambil tersenyum cuma bisa bilang : “With YOU, I can do all things MyLord”
Semester 7, semester yang dihiasi dengan mata kuliah ajaib : Rekayasa Radio, Sistem Komunikasi Seluler, Pengolahan Sinyal Multimedia, Kapita Selekta, Kewarganegaraan, Proposal & Seminar, Manajamen Sumber Daya Manusia. Aku mengakui bahwa mata kuliah semester ini jauh lebih “manusiawi” dibanding dengan mata kuliah di 3 semester yang lalu. Tapi aku merasa tekanan yang ada di semester ini malah jauh lebih berat, dengan keadaan dosen yang jarang masuk kelas, tuntutan tugas yang tiba-tiba mencuak secara dasyat (Jurusan TT tak pernah direcoki dengan yang namanya TuBes), Tugas Akhir yang selalu menghantui mahasiswa tingkat akhir, dan kejenuhan yang berakhir dengan melarikan diri kemana pun untuk bisa menghilangkan penat ini.
Itu semua menjadi alasan kenapa aku takut melewati semester 7 ini, dan seperti ada semacam “kutukan” dimana di setiap semester ganjil IP ku turun secara drastis. Aku ingin sekali mematahkan “kutukan semester ganjil” itu untuk kali ini, tapi seolah semuanya tak mendukung begitu juga dengan diriku. Malas, galau, suka menunda-nunda, hobinya jalan dan main-main; ini adalah musuh ku. Aku benar-benar belajar hanya 2 kali dalam semester ini, menjelang UTS dan UAS.
Semester berat, tapi aku tak mengijinkan diri ku berjalan seorang diri, aku mengajak seorang SAHABAT menemaniku melewati semester ini. Saat mendapatkan hasil, sambil tersenyum cuma bisa bilang : “With YOU, I can do all things MyLord”
I smile
Today’s a new day, but there is no sunshine.
Nothing but clouds, and it’s dark in my heart
and it feels like a cold night.
Today’s a new day, but where are my blue skies.
Where is the love and the joy that you promised me
tell me it’s alright.
I almost gave up, but a power that I can’t explain,
fell from heaven like a shower now.
I smile, even though I hurt see I smile,
I know God is working so I smile,
Even though I’ve been here for a while
I smile, smile..
It’s so hard to look up when you look down.
Sure would hate to see you give up now.
You look so much better when you smile, so smile.
Kirk Franklin- I Smile
"Smiling can give you a power to face your problem"
When life gives you a hundred reasons to cry, show life that you have a thousand reasons to smile
Nothing but clouds, and it’s dark in my heart
and it feels like a cold night.
Today’s a new day, but where are my blue skies.
Where is the love and the joy that you promised me
tell me it’s alright.
I almost gave up, but a power that I can’t explain,
fell from heaven like a shower now.
I smile, even though I hurt see I smile,
I know God is working so I smile,
Even though I’ve been here for a while
I smile, smile..
It’s so hard to look up when you look down.
Sure would hate to see you give up now.
You look so much better when you smile, so smile.
Kirk Franklin- I Smile
"Smiling can give you a power to face your problem"
When life gives you a hundred reasons to cry, show life that you have a thousand reasons to smile
Subscribe to:
Posts (Atom)




